Pernah membaca laporan yang menyajikan pernyataan-pernyataan dari sumber yang tidak ingin disebutkan nama identitasnya? Pasti pernah. Biasanya kerap ditemukan dalam sebuah pelaporan investigasi. Biasanya sumber anonim banyak muncul dalam sebuah laporan/berita yang agak sensitif. Ada macam-macam motivasi seseorang narasumber untuk tidak mengungkapkan identitasnya kepada publik, seperti takut informasi yang disampaikan dapat membahayakan keselamatan bahkan nyawanya. Konsekuensi seorang jurnalis yang menggunakan kutipan-kutipan anonim dalam laporannya adalah: mengambil alih tanggung jawab atas pernyataan dari narasumber. Ada beberapa syarat seorang jurnalis bisa menggunakan sumber anonim:
1. Sumber tersebut berada pada lingkaran pertama “peristiwa berita” yang kita laporkan. Artinya, dia menyaksikan sendiri, atau terlibat langsung, dalam peristiwa tersebut. Dia bisa merupakan pelaku, korban atau saksi mata, tapi dia bukanlah orang yang mendengar dari orang lain. Dia bukan pihak ketiga yang melakukan analisis terhadap peristiwa itu.
2. Keselamatan sumber tersebut terancam bila identitasnya kita buka. Unsur “keselamatan” itu secara masuk akal bisa diterima akal sehat audien kita.
Artinya, entah nyawanya yang benar-benar terancam atau nyawa anggota keluarga langsungnya yang terancam (anak, istri, suami, orang tua, saudara kandung). Kalau sekedar “hubungan sosial” yang terancam, misalnya pertemanan, maka ia tak termasuk faktor “keselamatan.”
3. Motivasi sumber anonim memberikan informasi murni untuk kepentingan publik. Kita harus mengukur apa motivasi si sumber memberikan informasi. Banyak kasus di mana si sumber memberikan informasi dan minta status anonim untuk menghantam lawan atau orang yang tak disukainya. Banyak juga kasus dimana informasi anonim diberikan karena hal itu menguntungkan si sumber tapi ia mau sembunyi tangan.
4. Integritas sumber harus Anda perhatikan. Orang yang sering mengarang cerita atau terbukti pernah berbohong atau pernah menyalahgunakan status sumber anonim, tentu saja, jangan diberi kesempatan jadi sumber anonim Anda lagi.
Semakin berani seorang sumber disebutkan identitasnya, semakin kecil kemungkinan ia berbohong. Bila mulai mencurigai narasumber, sebaiknya mengeluarkan alat perekam dan kamera. Biasanya, bila narasumber yang sedang berbohong enggan atau menolak untuk direkam dan difoto.
5. Harus seizin atasan Anda. Pemberian sumber anonim harus dilakukan dengan sepengetahuan dan seizin atasan Anda, misalnya redaktur. Bagaimana pun juga, editor Anda yang harus bertanggungjawab kalau ada gugatan terhadap kinerja jurnalistik kita.
Washington Post pernah mengembalikan Pulitzer Prize, New York Times pernah dibohongi wartawannya sendiri yang mengarang berita (Jason Blair). Segala
kemungkinan bisa terjadi. Ingat Bill Kovach: kalau ada sumber anonim, redaktur dan pemred harus tahu identitas jelasnya. redaktur/pemred harus peduli (supaya tidak kecolongan) karena dia yang harus akan bertanggungjawab.
6. Ingat aturan Ben Bradlee. Bradlee adalah redaktur eksekutif harian The Washington Post zaman skandal Watergate. Bradlee pernah mengeluarkan sebuah aturan yang terkenal tentang pemakaian sumber anonim. Dia hanya mau meloloskan sebuah keterangan anonim kalau sumbernya minimal dua pihak yang independen satu dengan yang lain.
7. Bill Kovach sendiri menambahkan satu syarat lagi. Kita harus membuat sangat jelas dengan calon sumber anonim kita bahwa perjanjian keanoniman akan batal dan nama mereka akan kita buka ke hadapan publik, bila kelak terbukti si sumber berbohong atau sengaja menyesatkan kita dengan informasinya.
Menurut Farid Gaban, jurnalis yang memakai sumber anonim adalah jurnalis yang paham benar akan risiko masuk penjara. Si jurnalis tidak boleh mengungkapkan identitas sumber meski penjara adalah ancamannya. Memilih masuk penjara daripada mengungkapkan sumber adalah benar secara etis, dan karenanya tidak perlu dibela, kecuali kita mengapresiasinya.
Filed under: Jurnalisme







