
Sebagian warga Melayu Sambas percaya roh-roh jahat yang bisa mendatangkan wabah penyakit dapat diusir dengan cara dibuang ke laut dengan perahu layar. Tradisi tahunan itu dikenal dengan Antar Ajung.
PANTAI Tanah Hitam, 1 Juni 2008. Matahari masih cukup pagi ketika belasan ribu orang datang ke pantai itu. Menjelang siang semakin banyak orang-orang yang berdatangan. Suasana pantai semakin riuh di tingkah dengan pentas tari dan sajian musik khas Melayu. Di bibir pantai sudah berjejer rapi 19 ajung dengan layar-layar aneka warna. Ini adalah perahu kecil berukuran panjang 2-3 meter replika dari perahu Cina (Shanghai). Perahu-perahu itu mewakili dusun-dusun dari dua kecamatan, Paloh dan Teluk Keramat.
Saat matahari mulai bergeser ke barat, pengunjung mulai merapat bibir pantai. Inilah saat-saat yang mereka tunggu: pelepasan ajung. Maka ketika perahu-perahu itu dilepaskan menuju Laut Cina Selatan pada pukul 2 siang, sorak-sorai pengunjung membahana seolah memanjat dinding langit. Mereka bertahan di pinggir pantai selama sekian waktu, hingga semua ajung menembus horison dan tak tampak oleh mata. Sebuah tradisi yang mereka namakan Antar Ajung telah usai.
Antar Ajung merupakan tradisi dari masyarakat Melayu, Sambas, Kalimantan Barat. Hampir setiap tahun tradisi ini dilakukan di kabupaten itu. Tahun ini kegiatan itu dikemas menjadi sebuah festival dan dipusatkan di pantai Tanah Hitam, Paloh, yang berjarak sekitar 250 kilometer dari Pontianak. Jika menggunakan kendaraan beroda empat, dibutuhkan jarak tempuh sekitar 7 jam dari Ibukota Kalimantan Barat itu ke Tanah Hitam.
Sultan Mahmud Syafiudin
Sebelum kembali dihidupkan, kegiatan Antar Ajung pernah dilarang selama kurun yang cukup lama. Beberapa penduduk menyebut lebih 30 tahun, tak pernah ada, sebagian yang lain mengatakan Antar Ajung sudah dilarang selama 50 tahun. Alasannya ritual itu bertentangan dengan nilai-nilai agama. Namun sejak tiga tahun ke belakang, Antar Ajung kembali dihidupkan. Acara yang berlangsung di Tanah Hitam itu merupakan kegiatan yang ketiga kalinya. “Tradisi ini, sekarang didukung oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sambas,” kata Joko Waluyo, sekretaris Sanggar Lancang Kuning. Joko terlibat dalam pelaksanaan Festival Antar Ajung tahun ini.
Apa yang disebut sebagai Antar Anjung adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengumpulkan roh-roh jahat yang akan mengganggu sawah petani sewaktu masa tanam hingga panen padi. Itu sebab, tradisi ini biasanya dilaksanakan sebelum memulai masa tanam padi. Roh-roh jahat itu lalu dikumpulkan di dalam perahu dan dilepaskan ke laut. Karena sudah dilepaskan ke laut dan menjauh, roh-roh itu diharapkan tidak akan mengganggu musim tanam hingga musim panen tiba.
Menurut Awang Bujang, tokoh masyarakat yang merangkap pawang, tradisi ini diperkenalkan pertama kali oleh Sultan Muhammad Syafiudin. Dia adalah sultan pertama dari Kerajaan Sambas yang memerintah dari 1631 hingga 1668. Alkisah, Sultan Sambas itu memerintahkan rakyat agar sebelum memulai persemaian padi sebaiknya melakukan dulu ritual Antar Ajung. Maksudnya, agar hasil panen padi memuaskan. “Sampai sekarang warga percaya, ritual Antar Ajung telah membuat hasil panen jauh lebih baik,” kata Awang.
Pilihan Kayu dan Pawang
Tak cukup banyak orang di Sambas yang bisa membuat ajung. Salah satu dari yang sedikit itu adalah Azis Auli. Lelaki berusia 68 tahun itu mengatakan, dibutuhkan waktu sebulan untuk membuat satu ajung. Mulai dari mendesain, mencari bahan kayu, membentuk hingga menghiasnya. Ukuran ajung juga diperhitungkan cermat, agar kelak bisa berlayar dengan baik. “Bahan-bahan kayunya harus dipilih secara tepat,” kata Azis.
Untuk badan perahu misalnya, kayu yang digunakan berasal dari jenis pelaik atau jelutung, karena jenis kayu ini ringan. Untuk kemudi kapal digunakan kayu berbahan berat, agar senantiasa tenggelam di dalam air. Ukuran dan bentuk layar juga harus seimbang, agar ajung tidak oleng. Satu ajung, menurut Azis, menghabiskan ongkos Rp 300 ribu dan biaya itu ditanggung bersama oleh warga dusun.
Ketika selesai dibuat, ajung lantas dihias menyerupai perahu yang sebenarnya. Di dalamnya diisikan berbagai sesaji: beras kuning, ratteh (berondong beras ketan putih), buah pinang, telur, dan miniatur perkakas yang terbuat dari kayu atau jerami. Dengan semua bawaannya, bobot satu ajung bisa mencapai 30 kilogram.
Sebelum ajung dilepaskan ke laut, malam hari sebelumnya, dilakukan ritual Besiak, prosesi menangkap roh-roh jahat. Untuk menggelar Besiak, sebuah panggung kecil yang telah dihias bercorak khas Melayu disiapkan. Di sekeliling panggung pun sudah dijejerkan ajung sementara di tengah panggung disediakan aneka perlengkapan ritual tersedia seperti kemenyan, kue cucur daram-daram, pelepah pinang, beras kuning, ratteh, dan lain-lain. Sebuah gentong berisi air benih padi pun diletakkan di tengah panggung. Air ini kelak digunakan oleh warga untuk menyemai bibit padi.
Ketika roh-roh itu sudah ditangkap, mereka lantas dimasukkan ke dalam ajung bersama dengan semua sesajen. Penangkapan roh-roh itu dilakukan oleh para arwah Datuk yang merasuki badan para pawang seperti Awang. Ketika Besiak selesai, para pawang harus menunggui ajung yang telah ‘diisi’ tersebut sepanjang malam.
Tak semua orang dapat menjadi seorang pawang, tentu. Seseorang harus memiliki ikatan darah dengan para leluhur mereka yang juga pawang atau mendapatkan wangsit (wahyu) sebelum bisa dinobatkan sebagai pawang. “Saya jadi pawang sejak tahun 1953 sampai sekarang, kepandaian ini diperoleh secara turun-temurun,” kata Awang.
100 Ketupat
Menjelang sore Festival Antar Ajung di Kabupaten Sambas, berakhir. Pengunjung dan warga dusun kembali ke tempat asal mereka masing-masing. Setelah Antar Ajung, mereka, karena itu terikat untuk mematuhi pantangan, antara lain tidak boleh menebang kayu besar di hutan dan pohon sagu. Kalau ada yang melanggar maka sanksinya akan dikenakan hukuman adat: membuat ketupat seratus buah dan harus dibagikan ke setiap rumah di dusun mereka. Denda lainnya, membayar Rp 25 ribu untuk diinfakkan ke masjid.
Oleh Pemerintah Kabupaten Sambas, acara ini sudah dimasukkan sebagai agenda tahunan untuk kegiatan wisata. Pada masa-masa mendatang, Festival Antar Ajung, karena itu diharapkan bisa menjaring wisatawan dari luar Sambas. Harapan itu, tampaknya akan mungkin berhasil, jika pemerintah setempat juga memperbaiki jalan-jalan raya yang rusak yang menuju ke tempat acara Antar Ajung, seperti jalan masuk ke pantai Tanah Hitam Paloh, yang sudah rusak parah itu.[]
(dimuat di JakartaPress.com, 06 Juni 2008)
Filed under: Budaya








sip.thx infonya.
silakan kunungi situs kami: http://www.melayuonline.com dan wisatamelayu.com. sklaian kasih komentarnya. thx…